Sabtu, 20 Oktober 2007

Pangan Lokal Papua sebagai Kearifan Budaya

MASYARAKAT Papua mengenal sejumlah makanan lokal, seperti sagu, ubi jalar, keladi, singkong, dan pisang. Tetapi hanya dua jenis makanan yang begitu populer, yakni sagu bagi masyarakat pantai dan ubi jalar untuk masyarakat pedalaman. Dari hari ke hari makanan lokal itu diabaikan di mana pemerintah mulai mensosialisasikan pola makan beras. Runyamnya, budidaya padi di kalangan petani lokal tidak bisa dikembangkan.


DIREKTUR Lembaga Pengembangan Penelitian Universitas Cenderawasih (Uncen) Dr Josh Mansoben di Jayapura pekan lalu mengatakan, hasil penelitian sejumlah dosen Uncen menunjukkan, kecenderungan masyarakat Papua mengonsumsi beras terus meningkat setiap tahun dibanding makanan lokal. Bahkan, ada sebagian penduduk Papua tidak lagi berupaya menanam pangan lokal, dengan alasan akan membeli beras.

Padahal, pangan lokal seperti ubi jalar, keladi, pisang, singkong dan sagu sudah dikenal masyarakat sejak nenek moyang. Makanan ini dari turun-temurun dikenal orang Papua. Bahkan, sagu memiliki nilai budaya dan tradisi yang sangat tinggi karena mengandung unsur mistis dan magis.

Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan 1996-1998, produksi ubi jalar di Papua sebanyak 435.000 ton. Tetapi jumlah ini terus menurun setiap tahun. Pada tahun 1999-2001 hanya mencapai 340.000 ton. Tahun 2003 lebih parah lagi dengan jumlah produksi hanya Rp 250.000 ton. Produksi ubi jalar terbesar di daerah Pegunungan Tengah (Paniai, Puncak Jaya, Jayawijaya, Tolikara, Yahokimo, Pegunungan Bintang, dan Nabire).

Masyarakat Pegunungan Tengah terutama di Lembah Baliem (Jayawijaya) menyebut ubi jalar dengan sebutan hipere. Penduduk suku Kurima (Jayawijaya) menyebut supuru, dan penduduk di Tiom menyebut mbi. Ubi jalar asal Baliem, termasuk jenis raksasa dengan panjang 2 meter dan garis tengah mencapai 30 cm, dan beratnya mencapai 15 kg.

Orang pedalaman mengenal ratusan jenis ubi jalar sesuai dengan nama yang diberikan sendiri. Terkadang dalam satu bedeng berukuran 10 meter x 20 meter ditanam lebih dari 20 jenis ubi jalar. Penanaman dilakukan bervariasi. Bila larik pertama ditanami jenis ubi jalar jenis saporeken, musan, sapoleleke, dan pilhabaru, maka larik berikutnya ditanami jenis lain. Variasi jenis tanaman ini dimaksudkan agar tidak bosan mengonsumsi satu jenis ubi jalar tertentu. Karena rasa dan aroma setiap ubi jalar berbeda.

Ubi jalar ini mendominasi seluruh areal ladang masyarakat di Jayawijaya. Di antara tanaman ubi jalar, ditanami sayur kol dan wortel. Biasanya masyarakat Pegunungan Tengah menanam ubi jalar dalam bentuk bedeng-bedeng dengan jarak 1 meter x 1 meter.

Cara penanamannya pun tidak memerlukan perawatan khusus. Agar isi ubi jalar bisa besar diperlukan rambatan dan intensitas cahaya matahari cukup tinggi agar proses fotosintesis dapat berlangsung aman.

Pengetahuan masyarakat Pegunungan Tengah mengenai manfaat ubi termasuk tinggi. Bagi anak-anak atau bayi biasanya diberikan jenis walelum karena teksturnya halus, tidak berserat dan mengandung betakarotein tinggi. Jenis helalekue dan arugulek dikonsumsi oleh orang dewasa, dan untuk makanan ternak (babi) biasanya diberikan jenis musan, yang tidak bercitarasa dan kulitnya tampak pecah-pecah.

"Di sini ada kearifan budaya lokal Papua yang tidak begitu saja digantikan oleh beras. Makanan–makanan tradisional ini memiliki legenda, adat dan budaya yang semestinya harus dipertahankan dan dilestarikan, di samping memasukkan jenis makanan dari luar," kata Mansoben.

Penelitian Uncen itu menyebutkan, di Papua terdapat 681 jenis umbi-umbian. Dari jumlah itu sekitar 15 persen di antaranya setelah diteliti ternyata memiliki sejumlah kesamaan. Penelitian itu terfokus pada jenis daun, tulang daun, warna kulit, dan daging umbi.

Ubi jalar dapat dipanen antara 6 dan 8 bulan, tergantung jenis tanah, sinar matahari, dan jenis ubi. Tanah berhumus dengan tingkat kelembaban cukup tinggi, mempercepat ubi berisi dan dalam waktu enam bulan dapat dipanen. Masyarakat Pegunungan Tengah hanya mengonsumsi ubi jalar dengan cara direbus, dibakar, dan sebagian dijemur di sinar matahari kemudian disimpan. Belum ada yang mencoba mengelola ubi jalar untuk bahan kue.

Ubi jalar termasuk tidak tahan terhadap proses pembusukan dan ulat ubi. Makin lama disimpan citarasa dan aromanya terus menurun. Malah bila disimpan di tempat yang lembab menjadi tumbuh, berkecambah. Karena itu, ribuan ton ubi jalar milik petani di Pegunungan Tengah sering rusak dan membusuk. Ubi jalar hanya bertahan 3-4 bulan jika disimpan di tempat dengan suhu udara 20-30 derajat Celsius.

Keladi, singkong, dan pisang hanya sebagai makanan pengganti ubi jalar bagi masyarakat Pegunungan Tengah dan sagu bagi masyarakat pantai (Jayapura, Biak, Sorong, Manokwari, dan Mimika). Masyarakat pantai pun sebagian mengonsumsi ubi jalar, keladi dan pisang, tetapi sagu jarang dikonsumsi masyarakat Pegunungan Tengah.

PAPUA adalah salah satu provinsi di Indonesia dengan potensi sagu terbesar, bahkan terluas di seluruh dunia. Luas lahan sagu 771.716 hektar atau sekitar 85 persen dari luas hutan sagu nasional. Wilayah sebarannya di Waropen Bawah, Sarmi, Asmat, Merauke, Sorong, Jayapura, Manokwari, Bintuni, Inawatan, dan daerah yang belum terinventarisasi.

Di Asmat sagu sebagai makanan khas pemberian nenek moyang. Pada zaman dulu, menokok sagu harus diawali dengan upacara adat agar nenek moyang yang menjaga sagu itu dapat memberikan sari yang bagus dan dapat dikonsumsi untuk pertumbuhan dan kesehatan seluruh isi keluarga.

Data dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Jayapura, luas lahan sagu di Jayapura 38.670 ha, terdiri dari 14.000 ha areal budidaya dan sisanya areal hutan sagu alam. Dari areal ini diperoleh tepung sagu sebanyak 6.546 ton, sebanyak 62,98 persen di antaranya dijadikan stok pangan penduduk kabupaten Jayapura, sisanya untuk bahan makanan penduduk kota Jayapura. Produksi sagu di Papua diperkirakan 1,2 juta ton setiap tahun.

Sementara itu, sekitar 4,8 juta ton sagu terbuang cuma-cuma karena tidak difungsikan. Pokok sagu dibiarkan sampai tua karena pengetahuan mengenai pengelolaan sagu masih terbatas, proses mengambil sari sagu butuh waktu lama dan butuh tenaga yang kuat.

Padahal, sagu tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga digunakan untuk produk industri modern, seperti proses pembuatan kayu lapis, sohun, kerupuk, kue kering, jeli. Di Jepang pati sagu setelah dicampur dengan bahan tertentu digunakan untuk bahan baku plastik daur ulang, lampu komputer, dan layar flat monitor TV.

Upaya memanfaatkan sagu Papua pernah dilakukan pemda setempat dengan mendatangkan investor. Misalnya, PT Sagindo Sari Lestari yang mengelola ribuan hektar hutan sagu di Bintuni tahun 1998. Namun, perusahaan tersebut bangkrut karena nilai jual tidak setara dengan biaya produksi.

Ini terjadi karena perusahaan itu hanya mengelola sagu untuk kebutuhan kayu lapis di salah satu daerah di Jawa Timur, yang cukup jauh dari Papua sehingga dari sisi harga kurang menguntungkan. Sementara itu, mengekspor sagu waktu itu pun tidak mudah karena harus melalui proses izin yang berbelit-belit dan merugikan perusahaan itu sendiri.

KETUA Umum Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan Nasional Siswono Yudhohusodo saat berceramah di Koya Timur, Jayapura, beberapa waktu lalu, mengatakan, pola makan beras yang disosialisasikan pemerintah telah merusak sejumlah ketahanan pangan nasional. Masyarakat Madura dan NTT yang mengonsumsi jagung, masyarakat Papua dan Maluku yang mengonsumsi sagu dan umbi-umbian telah beralih ke beras.

Kondisi ini sangat memprihatinkan. Proses itu telah menghilangkan pola makan makanan lokal, yang telah dicanangkan sebagai ketahanan pangan nasional. Ada pemahaman yang keliru, beras adalah makanan orang modern, makanan pejabat, dan orang terkemuka. Mengonsumsi beras status sosial akan meningkat. Makanan lokal lain seperti ubi, sagu, pisang dan jagung adalah makanan orang miskin, tertinggal, makanan ternak.

Pandangan ini ditunjang dengan perilaku sejumlah pejabat dan orang asli Papua. Sebelum menjadi pejabat atau orang terkenal, mereka mengonsumsi umbi-umbian dan sagu, setelah menjadi pegawai negeri dan pejabat, pola hidup mereka berubah. Mereka lebih sering makan di restoran dan warung makan dibanding menikmati masakan khas Papua, seperti sagu dan umbi-umbian.

Beras sebetulnya dikenal masyarakat Papua sejak tahun 1963 ketika sebagian penduduk Indonesia dari suku lain mulai berdomisili di daerah itu, sebagai tenaga relawan, TNI, dan staf pemerintahan. Mereka datang ke Papua membawa beras sebagai bekal. Hanya penduduk pesisir Merauke yang sudah mengenal beras melalui para misionaris sejak tahun 1800-an. Sejak saat itu pula petani Merauke memiliki keterampilan budidaya padi sampai hari ini. (Sumber: www.kompas.com)
Readmore »

Aku Ingin Menciummu Sekali Saja

Wajah Papua Dalam Besutan Garin

Setelah 'absen' cukup lama, sineas Garin Nugroho kembali mempersembahkan karya terbarunya. Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (AIMSJ), demikian tajuk film yang saat ini masih dalam proses editing tersebut. Seperti juga film-film Garin sebelumnya, AIMSJ menampilkan apa yang disebut Garin sebagai 'semangat pengembangan keragaman budaya'.


Ya, setelah menampilkan budaya Jawa dalam Rembulan Tertusuk Ilalang, Aceh dalam Puisi Tak Terkuburkan, film terbaru Garin tampil dalam nafas Papua. AIMSJ yang baru selesai syuting tiga pekan lalu, hanya menampilkan dua pemeran utama dari luar Papua. Mereka adalah Lulu Tobing dan Adi Kurdi. Sisanya dari Papua, seperti Oktvaianus Rysiat Muabuai dan Sonya Baransano.

Film ini mengisahkan Arnold yang baru berusia 16 tahun. Ia anak seorang guru kesenian bernama Berthold, yang bertugas mengajarkan tarian Burung Kaswari di sekolah. Memiliki trauma terhadap aksi kekerasan di sekitarnya, Berthold memilih lari ke hutan dan menutupi sosok dirinya dengan sosok burung kaswari.

Sementara Arnold, dikisahkan bertemu seorang gadis cantik. Untuk pertama kalinya, ia jatuh cinta hingga muncul perasaan ingin mencium si-Gadis. Tentu saja ia merasa bingung dengan perasaan yang baru muncul itu. Arnold bingung untuk mengungkapkan berbagai keinginan yang mengendap dalam dirinya pada si Gadis.

Menurut Garin, ada makna yang sangat mendalam dari kisah tersebut. ''Kegelisahan Arnold adalah representasi dari keadaan Indonesia saat ini,'' ujarnya pada jumpa pers, pekan lalu. Arnold, seperti halnya Indonesia, menginginkan sebuah kedamaian dalam bentuk berbeda. Keduanya pun mengalami identitas diri.

''Kalau bagi Arnold, kedamaian itu adalah mencium gadis impiannya. Sedangkan Indonesia ingin bercinta dengan kedamaian,'' ujar Garin tentang film keenamnya ini. Tapi keadaan yang begitu berbeda membuatnya bingung. Berbagai masalah yang menerpa bangsa ini diterjemahkan Garin ke dalam kebingungan Arnold dalam menghadapi masa remaja.

Tapi kenapa Papua? ''Papua adalah wilayah yang minoritas masuk dalam sinema dan televisi,'' jelasnya. Ini adalah film Indonesia pertama dengan aktor dan lokasi budaya Papua. Menurut Garin, selama ini belum ada cerita mengambil tema dari persoalan-persoalan Papua kontemporer. Terutama yang terkait identitas kultur dan HAM.

Tak heran, kalau Garin sengaja memasukkan adegan-adegan yang sebenar-benarnya mengenai Papua. Seperti Kongres Papua. Ia menjelaskan, film ini sudah disiapkan sejak kongres itu tahun lalu. ''Pemain utama sengaja diambil dari Papua, agar mereka bisa mengekspresikan persoalan-persoalan mereka sendiri,'' tambahnya.

Adi Kurdi menambahkan, kemampuan akting para pemain dari Papua layak diacungi jempol. ''Etos kerja mereka tinggi, padahal mereka tidak memiliki pengetahuan tentang akting,'' ujarnya kagum. Ia mengaku menemukan suasana yang menyenangkan dalam proses syuting. ''Suasananya sama seperti syuting Keluarga Cemara,'' lanjut dia.

Film berdurasi 90 menit ini menurut rencana akan diputar 26 Desember mendatang. ''Film akan beredar di dua sampai tiga bioskop 21, karena terbatasnya film,'' jelas Garin. Selain itu, seperti biasanya, Garin akan berkeliling kampus-kampus untuk melakukan pemutaran film dan diskusi, khususnya mengenai tema multikultralisme.

Periode pemutaran tersebut sengaja dipilih dengan pertimbangan, tahun 2003 atau menjelang pemilu, demokratisasi akan dihadapkan pada persoalan identitas kultur dan primodialisme. Garin berharap dialog lewat film ini bisa menjadi salah satu cara pendewasaan masyarakat sipil.

O, ya, selain menampiklan keindahan Papua, film ini juga memakai No Woman No Cry sebagai soundtrack. Khusus untuk pemakaian hit Bob Marley ini, Garin hanya membayar 25 persen dari harga yang disyaratkan. ''Itu karena mereka (manajemen Bob Marley, red) tahu saya membuat film tentang perdamaian,'' katanya.(ira) (Sumber: www.kompas.com)
Readmore »

Kami Bangga Hitam dan Keriting

Oleh: Putu Fajar Arcana

Ungkapan Kami memang hitam dan keriting, tetapi kami bangga jadi orang Papua ibarat ritual pembebasan di tanah Papua.


Pesta Budaya Papua 22-27 Agustus 2005 di Taman Budaya Papua di distrik Abepura, kira-kira satu jam perjalanan dari Jayapura, adalah bukti paling konkret tentang ungkapan itu.

Perhelatan ini baru berhasil digelar secara massal dan berkesinambungan sejak tahun 2002, dua tahun setelah mantan Presiden Abdurrahman Wahid meresmikan penggantian Irian Jaya menjadi Papua. Sebelum itu pemerintah selalu beranggapan, segala hal yang berbau Papua subversif.

Bahkan, menurut penuturan dosen Sekolah Tinggi Teologi IS Kijne, Dr Benny Giay, tahun 1980-an anak-anak muda yang memakai baju kaus dan menyenandungkan lagu-lagu Papua ditangkap dan ditembak.

Ia menyebut bagaimana pemerintah Orde Baru (Orba) menembak Arnold C AP, seorang dosen yang menjadi pemimpin kelompok musik Mambesak. Saya lebih senang kesenian diurus oleh masyarakat, jangan oleh negara, karena itu adalah jiwa kehidupan masyarakat. Seni itu akan jadi instrumen pembebasan. Kalau ini diambil oleh pemerintah, dia akan menindas dan membungkam, kata Giay, doktor lulusan Belanda itu.
Sederhana

Pesta Budaya Papua memang senantiasa berlangsung dalam kesederhanaan, yang terkadang memilukan. Kalau di tanah Jawa, mungkin beranalog dengan layar tancap. Ribuan penonton yang begitu antusias dan berdatangan dari pelosok Papua harus rela berjubel, saling menghalangi, dan bahkan berkali-kali diusir para juru rekam yang kesetanan.

Di sisi lain para peserta yang datang dari berbagai suku di pelosok pedalaman Papua tak kalah semangat menyemarakkan pesta tahunan ini. Yos Ayomi (45) tak pernah merasa rugi datang ke Abepura bersama 100 orang lainnya dari Waropen. Kami harus jalan kaki dari kampung sehari, terus naik kapal selama dua hari untuk sampai kemari, tuturnya.

Kehadirannya, demikian juga sebagian besar peserta yang tahun ini berasal dari 11 suku, tak muluk-muluk. Kami hanya ingin bertemu, berbicara, dan melihat suku lain sesama orang Papua, kata Tina Yelemaken (16) dari suku Hubla, Kabupaten Yahukimo, di pegunungan Tengah tanah Papua.

Di situlah apa yang dikatakan Benny Giay benar adanya. Seni bagi orang Papua adalah ritual pembebasan. Mereka ingin beranjak dari kehidupan sehari-hari yang monoton: keluar masuk hutan, berburu, dan mengumpulkan makanan. Satu-satunya kehidupan mereka yang selama ini cukup menghibur adalah jika digelar pesta adat seperti bakar batu. Di situ mereka bisa berekspresi, seperti menari, berteriak, atau berloncatan sembari merentangkan busur seolah membidik binatang buruan.

Sangatlah masuk akal kemudian apabila Pesta Budaya Papua dianggap sebagai medium kultural terbesar bagi rakyat Papua selama ini. Dan, sesungguhnya pesta budaya ini memang menjadi yang terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraan perhelatan kesenian tradisi.

Setidaknya hal itu bisa dibuktikan dari jumlah keterlibatan peserta. Tahun ini pesta hanya mampu menampung 11 suku dari 253 suku yang sementara teridentifikasi di Papua. Artinya, kalau pesta ini terus berlangsung selama 25 tahun, barulah seluruh suku yang ada bisa ditampilkan. Tidak ada suku yang sama hadir di sini setiap tahun, kata Kepala Taman Budaya Papua Aloysius Nafurbenan.

Namun, kebesaran pesta ini tidak diikuti penyediaan infrastruktur serta pengelolaan manajemen pertunjukan yang memadai. Itu jugalah gambaran umum yang terdapat hampir di seluruh Papua. Taman Budaya Papua baru didirikan tahun 1996 dan tiga tahun lalu disusul dengan pembentukan Sekolah Tinggi Seni Papua (STSP), yang gedungnya saja sampai kini masih morat-marit. Padahal, dua institusi ini adalah pilar utama untuk terus mendorong pencarian jati diri orang Papua, karena itu akan menjadi kebanggaan di tengah pemiskinan yang terjadi di sana-sini.

Selama ini orang Papua merasa pemerintah pusat selalu mengeksploitasi mereka. Segala kebijakan yang menyangkut hak hidup dan martabat mereka senantiasa diputuskan di Jakarta. Sementara kami di sini seperti dibiarkan hidup telantar, ujar seorang dosen STSP.

Itulah rupanya alasan mengapa Pesta Budaya Papua hampir selalu disambut dengan gegap gempita oleh masyarakat setempat. Mereka seperti menemukan ruang baru untuk menyatakan diri tanpa takut dituduh subversif. Kebanggaan lokal bagi mereka sungguh penting untuk mengambil kembali jati diri yang telah dirampas selama bertahun-tahun. Karena itu, ungkapan Kami memang hitam dan keriting, tapi kami bangga jadi orang Papua hadir menjadi sesuatu yang sakral, sebuah mantra pembebasan dari keterkungkungan. (sumber: www.kompas.com)
Readmore »

Alam dan Budaya Papua Tetap Menjadi Daya Tarik Wisatawan Dunia

Kapanlagi.com - Potensi alam dan budaya masyarakat Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara, kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Papua Abner J.Kambuaya di Biak, Rabu (23/08).


Meski Provinsi Papua banyak memiliki potensi budaya dan alam namun dalam pengembangannya sektor pariwisata masih mengalami kendala dengan minimnya tenaga ahli di bidang kepariwisataan, kata Kambuaya.

"Sumber daya manusia di bidang pariwisata di Provinsi Papua masih sangat kurang sehingga belum dapat menciptakan program pariwisata yang langsung menjawab kebutuhan para wisatawan," ujar Kambuaya yang datang ke Biak untuk membuka kursus pramuwisata laut di wilayah ini.

Ia mengatakan, dalam mempromosikan objek wisata di Provinsi Papua, Dinas Pariwisata Provinsi Papua terus berupaya meningkatkan pengetahuan bagi sumber daya manusianya.

Salah satu upaya itu, lanjutnya, dengan memberikan kesempatan kepada aparaturnya untuk menempuh sejumlah pendidikan di berbagai perguruan tinggi guna memperdalam ilmu pengetahuan terutama di bidang kepariwisataan, antropologi dan sosiologi.

Selain itu, lanjutnya, Dispar Provinsi Papua telah membuka kursus-kursus untuk tenaga pramuwisata yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Papua.

"Masyarakat yang berkepentingan langsung dengan sektor pariwisata juga diberikan pelatihan," katanya.
Kambuaya optimis jika tenaga ahli bidang pariwisata di Provinsi Papua dapat dihasilkan melalui lembaga pendidikan tinggi, maka ke depan kebutuhan akan sumber daya manusia untuk mengelola dan menciptakan program pariwisata bisa terpenuhi.

"Provinsi Papua kaya dengan potensi alam dan budayanya tetapi tenaga ahli untuk merancang program kepariwisataan hingga pada pelaksanaan di lapangan masih sangat kurang," ujarnya.

Dia mengakui, selain terbatasnya tenaga ahli yang dimiliki daerah ini untuk sektor kepariwisataan, kendala lain yang dihadapi adalah belum sepenuhnya pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Papua memberikan perhatian pada pendanaan guna mendukung program ini.

Dinas pariwisata provinsi, menurut Kambuaya, hanya bersifat lembaga koordinasi di tingkat provinsi sementara secara operasional program di lapangan itu langsung ditangani Dispar kabupaten/kota.

Menyinggung tentang berapa besar dana yang dialokasikan Pemerintah Provinsi Papua dalam mendukung program pariwisata, dia mengatakan dalam tahun 2006 melalui dana APBD Provinsi Papua telah dialokasikan lebih Rp7 miliar. (*/lpk) (Sumber: www.kapanlagi.com)
Readmore »

Kebudayaan Papua Hadapi Masalah Pewarisan

TEMPO Interaktif, Jayapura:Wakil Gubernur Papua, Alex Hesegem, menyatakan kebudayaan Papua saat ini memiliki masalah pewarisan. Sebab, potensi budaya hanya tersimpan pada orang tertentu, terutama orang tua. "Orang muda cenderung meninggalkan akar budaya dan mengikuti tren global," katanya saat membuka Festival Adat Papua, kemarin.


Selain diikuti 14 kabupaten di Provinsi Papua, festival itu juga diikuti Kabupaten Manokwari yang kini menjadi wilayah Irian Jaya Barat. Festival yang akan berlangsung hingga 11 Agustus ini diikuti oleh 662 orang.

Menurut Alex, masih banyak potensi budaya yang belum tergali karena mayoritas penduduk Papua tinggal di kampung-kampung di pedalaman. "Harus dipikirkan, format baru pengembangan budaya yang tak terkikis oleh perkembangan zaman," katanya.

Menurut Ketua Panitia, Septinus Rumaseb, festival ini berisi seni tari, musik, dan sastra tradisional suku-suku di Papua. "Ada juga pameran makanan tradisional, benda budaya, dan obat tradisional," katanya.

Dalam festival ini, sejumlah penari lengkap dengan ikat kepala, bertelanjang dada dan mengenakan rok rumbai-rumbai menyambut para tamu menuju lokasi festival, Taman Budaya Kota Jayapura. Para tamu dan peserta juga mengikuti upacara mengunyah pinang. Pinang merupakan lambang perdamaian di Papua. (PRAMONO) (Sumber: www.tempointeraktif.com)
Readmore »

Eksotisme Indonesia Timur yang Dilupakan

SETELAH 45 menit mengudara meninggalkan Biak, pemandangan di bawah terlihat gugusan pulau-pulau karang berwarna toska. Warnanya muncul dari permukaan air laut yang tenang. Di antara gugusan pulau itu ada juga hutan-hutan kecil di tengahnya. Lima belas menit kemudian, tampak bentangan pegunungan dan perbukitan dengan rimba raya yang lebat.


Terlihat juga jalan setapak yang memanjang mengitari rimba, meliuk-liuk dengan kelokan yang menakjubkan, sampai lalu lenyap ke arah pegunungan. Lalu bukit-bukit yang seluruhnya adalah padang rumput. Bukit-bukit yang bergelombang mengepung Danau Sentani. Di antara lereng bukit-bukit itu, juga di pesisir pulau-pulau kecil di tengah danau, tampak satu dua rumah penduduk, menyelip tenang di antara rindang pepohonan besar di sekelilingnya. Danau Sentani tentu tidaklah seluasnya Danau Toba atau Singkarak.

Namun, danau seluas 9.630 hektare itu tampak menyimpan pesonanya sendiri. Di antara pegunungan, bukit-bukit berpadang rumput dan suasananya yang begitu tenang dengan permukaan airnya yang tampak bening, Danau Sentani seakan sebuah telaga yang berada di tengah perbukitan dan hutan yang masih alami.

Karena mungkin letaknya yang tak jauh dari Danau Sentani, bandara yang menjadi pintu gerbang menuju Jayapura pun di beri nama Sentani. Di Bandara Sentani, tak usahlah tersenyum atau heran membaca peringatan yang ditempelkan di mana-mana, "Dilarang Makan Pinang".

Orang Papua memang memiliki kebiasaan makan pinang dan meludahkan airnya yang berwana merah itu di mana saja. Jadi, bisa dimengerti untuk siapa larangan itu. Dan karena itu, jika Anda seorang perokok, tenang saja. Nyalakan saja, karena memang inilah mungkin satu-satunya bandara yang tidak melarang Anda merokok!

Bandara Sentani terletak sekira 33 km dari Jayapura yang bisa ditempuh dengan memakan waktu 1,5 jam perjalanan dengan menggunakan taksi atau angkutan umum, melewati jalan beraspal mulus di antara tebing-tebing perbukitan, hutan-hutan kecil, dan tepian Danau Sentani. Dalam perjalanan inilah, kita bisa lebih dekat menikmati pemandangan di sekitar danau yang indah tersebut.Sayangnya, tak ada satu pun fasilitas pariwisata. Sekeliling danau, hanya berupa pepohonan dan semak belukar dan rawa-rawa.

Beberapa kilo meter menjelang memasuki Kota Jayapura, jalan kembali menurun, melewati Entrop dan Abepura, dua kota kecil yang masih termasuk ke dalam wilayah administratif Kota Jayapura. Akan terlewati pula Taman Budaya Papua, tempat di mana terdapat bangunan-bangunan rumah adat. Di tempat ini setiap tahun berlangsung Pesta Budaya Papua. Sebuah pesta budaya yang menampilkan seluruh potensi budaya setiap kabupaten di Papua yang diwakili oleh setiap suku yang ada.

Sebagai catatan, di Papua terdapat sekira 268 suku dengan berbagai bahasa, seni, dan adat-istiadatnya. Sayang, pesta budaya tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Agustus ini, kurang tergarap sebagai sebuah even pariwisata.

Di taman budaya ini juga terdapat sebuah museum budaya yang menyimpan berbagai benda-benda berserah erat kaitannya dengan budaya Papua.

Letak kota ini memang menarik. Selain letaknya yang tak jauh dari perbatasan dengan Papua Niugini, Jayapura terletak di antara topografi yang berbukit-bukit. Di antara celah pegunungan yang menghadap ke arah Teluk Yos Sudarso dan Teluk Yotefa, Kota Jayapura seakan berada dalam sebuah ruang tapal kuda, dengan kedua sisinya yang ber-ada di ketinggian.

Di atas ketinggian itu, kita tak hanya disuguhi bagian kota yang berada di tepi pantai. Tapi juga hamparan Samudra Pasifik yang berair biru, jernih, dan seolah tak berombak.

Sejarah kota ini pun tak kalah uniknya. Jayapura adalah kota yang yang tak bisa dipisahkan dari kecamuk PD II. Di kota inilah Jenderal Mc.Arthur pernah mendarat sebelum meneruskan penyerbuannya mengusir Jepang dari kawasan Pasifik. Di Abepura, jejak bersejarah itu diabadikan dalam bentuk sebuah tugu peringatan, termasuk tugu pendaratan Jepang.

Sebelum PD II, ketika masih dalam kekuasaan kolonialisme Belanda, kota ini diberi nama "Hollandia", yang berarti daerah yang berbukit-bukit dan berteluk. Namun setelah berada dalam pemerintahan RI tahun 1963, kota ini berganti nama menjadi "kota baru", sampai kemudian pada tahun 1969 berganti lagi menjadi Sukarnopura, hingga sejak tahun 1975 diubah menjadi Jayapura, sampai sekarang.

Sebelum kawasan ini menjadi kota, orang menyebutnya dengan nama "Port Numbay". Meski kondisi infrastrukturnya yang terkesan kurang memadai, Jayapura sebagai sebuah tempat bagi perjalanan wisata menyuguhkan panorama alamnya yang elok.

Tak hanya Danau Sentani, melainkan juga Pantai Base G di Tanjung Swaja, di situ terdapat lukisan dinding karang peninggalan prasejarah. Atau, berdirilah di pusat kota, maka akan terasa bagaimana kita dikepung oleh rumah dan bangunan-bangunan yang terletak di ketinggian bukit. Bangunan dan rumah-rumah itu, seakan menempel di seluruh dinding bukit. Topografi Jayapura membuat arsitektur ruang kota ini memiliki ciri khasnya yang menarik.

Selain itu, berjalan-jalan sepanjang Kota Jayapura, terutama sore hari, kita akan bisa menyaksikan kehidupan warga kotanya yang menunjukkan keberagaman yang berbaur secara menarik.

Tak hanya warna kulit antara penduduk asli dan para pendatang, tapi keberagaman di antara para penduduk pribumi sendiri yang terdiri dari sekira 268 suku yang berbeda bahasa dan budayanya.

Meski pun di tengah sebuah pulau terdapat salib berukuran besar di puncak bukit yang menghadap ke laut, yang penuh lampu jika malam hari, namun di Jayapura, kita akan dengan mudah menemukan para perempuan-perempuan berjilbab. Demikian pula ketika waktu salat, masjid-masjid semarak mengumandangkan adzan dan lantunan Alquran.
Akomodasi di kota ini menyediakan hotel berbagai kelas, termasuk yang bertaraf internasional. Untuk transportasi, tersedia berbagai kendaraan carteran, atau angkutan kota yang disebut dengan taksi.

Meski di Jayapura juga terdapat rumah makan Padang, gudeg Solo, pecel lele, atau bakso, tapi jangan berharap bahwa harganya akan sama dengan harga di Pulau Jawa. Paling tidak, inilah yang dialami penulis ketika makan bersama penyair Ahmad Syubbanuddin Alwy, untuk dua porsi gulai ikan kakap, kami dikenai harga Rp 111.000,00. Ini tentunya tak berlaku bagi mereka yang berkantung tebal.

Selain objek wisata seperti Pantai Base G, Danau Sentani, Taman Budaya Papua. Pasar Hamadi adalah tempat yang tak bisa begitu saja dilewatkan untuk mendapatkan cenderamata khas Papua. Tapi jangan bayangkan bahwa Pasar Hamadi adalah sebuah pusat cenderamata di Jayapura bagi para pelancong.

Ternyata, tempat itu adalah pasar tradisional dengan beberapa toko yang khusus menjual cenderamata. Dari mulai patung, topeng, kapak batu, panah, lukisan kulit kayu, koteka, kantong-kantong yang terbuat dari jaring tumbuhan, tifa dengan berbagai ukuran, dan benda budaya berbagai suku yang ada di Papua.

Sayang sekali, infrastruktur pariwisata di kota ini kurang memadai untuk memanfaatkan serta mengelola aset yang dimilikinya. Termasuk untuk menyediakan sebuah pusat cenderamata sekalipun. Padahal, dengan kekayaan dan keragaman budaya serta keelokan alamnya yang eksotis, Jayapura bisa menjadi tujuan pariwisata terpenting di kawasan Indonesia Timur. Dan agaknya, inilah yang selalu membuat Jayapura terlupakan.(Ahda Imran)*** (Sumber: www.pikiran-rakyat.com)
Readmore »